Bahasa
Indonesia merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia, hal tersebut tertera
dalam sumpah pemuda pada butir ke tiga. Makna dari butir tersebut adalah Bahasa
Indonesia berfungsi sebagai bahasa pemersatu yang menjembatani keanekaragaman
suku, budaya, ras, bahasa, dan agama yang ada di negeri ini. Kesadaran akan
fungsinya sebagai pemersatu inilah yang mendorong para pendahulu untuk
bersumpah “Kami putra dan Putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa
indonesia. Apabila kita bayangkan, apa jadinya bangsa ini jika tidak ada bahasa
Indonesia? Jika semua orang berkomunikasi menggunakan bahasa daerahnya
masing-masing, tentu kita tidak akan mengerti apa yang sedang mereka bicarakan
karena tidak semua mengerti bahasa daerah yang ada di Indonesia.
Seiring
dengan perkembangan zaman di era globalisasi, banyak bahasa asing yang mulai
muncul dan bahkan mendominasi di negara ini, bahasa Indonesia yang di campur
dengan bahasa asing sudah menjadi hal yang lumrah terjadi dan sering kita dengar
dalam kehidupan sehari-hari. Banyak anggapan bahwa menggunakan bahasa asing
lebih keren dan dapat di terima dengan mudah dalam dunia pergaulan. Jika hal
tersebut terus terjadi, maka lambat laun akan membuat bahasa Indonesia menjadi
pudar.
Pada
saat ini, khususnya para pemuda, mereka lebih memilih menggunakan bahasa yang
tidak baku atau yang biasa dikenal dengan bahasa gaul. Seperti yang kita
ketahui, bahasa tersebut telah mengalami perubahan dan tidak sesuai dengan
Kamus Besar Bahasa Indonesia. Ditambah dengan pemuda yang memiliki pemikiran
“kalau nggak pakai bahasa gaul dikira kampungan”. Lalu, bagaimana bisa
dikatakan sebagai warga negara Indonesia jika tidak menggunakan bahasanya
sendiri secara baik dan benar?
Hal
lain yang dapat memengaruhi gaya bahasa seseorang yaitu media massa. Pengaruh
media massa bagi generasi muda sudah tidak dapat dielakkan kembali, misalnya
seperti televisi. Saat ini, hampir seluruh stasiun televisi menyiarkan acara
yang dapat dikatakan memiliki manfaat yang minim untuk generasi muda, bahkan
kebanyakan acara yang ditampilkan menggunakan bahasa yang tidak baku. Oleh
karenanya, generasi muda harus lebih pandai dalam menerima segala sesuatu agar
tidak terjerumus ke dalam hal yang merugikan.
Selain
globalisasi dan media massa, faktor lain yang dapat memengaruhi gaya bahasa
seseorang adalah lingkungan sekitar. Ketika bergaul dengan orang-orang yang
menggunakan bahasa gaul, maka lama kelamaan orang yang semula menggunakan
bahasa dengan baik dan benar akan terseret ke dalam dunia bahasa mereka.
Disinilah peran keluarga sangat diperlukan untuk membantu melestarikan bahasa
Indonesia. Dengan peran aktif keluarga, diharapkan membuat generasi muda
Indonesia menjadi lebih terbiasa menggunakan bahasa Indonesia sehingga tidak
terasa janggal.
Sebagai
generasi penerus bangsa Indonesia, sudah sepantasnya menjaga dan melestarikan
bahasa Indonesia, bukan malah merusaknya. Jika sebagai pemuda Indonesia tidak
dapat melestarikan bahasanya, bagaimana pemuda dapat diharapkan sebagai
generasi penerus bangsa yang membanggakan? Oleh sebab itu, marilah kita menjadi
generasi penerus bangsa dan warga negara Indonesia yang berperan aktif untuk
senantiasa menjunjung tinggi bahasa Indonesia yang baik dan benar agar
Indonesia semakin jaya.