Kamis, 14 Desember 2017

Lunturnya Bahasa Persatuan

Bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia, hal tersebut tertera dalam sumpah pemuda pada butir ke tiga. Makna dari butir tersebut adalah Bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa pemersatu yang menjembatani keanekaragaman suku, budaya, ras, bahasa, dan agama yang ada di negeri ini. Kesadaran akan fungsinya sebagai pemersatu inilah yang mendorong para pendahulu untuk bersumpah “Kami putra dan Putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa indonesia. Apabila kita bayangkan, apa jadinya bangsa ini jika tidak ada bahasa Indonesia? Jika semua orang berkomunikasi menggunakan bahasa daerahnya masing-masing, tentu kita tidak akan mengerti apa yang sedang mereka bicarakan karena tidak semua mengerti bahasa daerah yang ada di Indonesia.
Seiring dengan perkembangan zaman di era globalisasi, banyak bahasa asing yang mulai muncul dan bahkan mendominasi di negara ini, bahasa Indonesia yang di campur dengan bahasa asing sudah menjadi hal yang lumrah terjadi dan sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Banyak anggapan bahwa menggunakan bahasa asing lebih keren dan dapat di terima dengan mudah dalam dunia pergaulan. Jika hal tersebut terus terjadi, maka lambat laun akan membuat bahasa Indonesia menjadi pudar.
Pada saat ini, khususnya para pemuda, mereka lebih memilih menggunakan bahasa yang tidak baku atau yang biasa dikenal dengan bahasa gaul. Seperti yang kita ketahui, bahasa tersebut telah mengalami perubahan dan tidak sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Ditambah dengan pemuda yang memiliki pemikiran “kalau nggak pakai bahasa gaul dikira kampungan”. Lalu, bagaimana bisa dikatakan sebagai warga negara Indonesia jika tidak menggunakan bahasanya sendiri secara baik dan benar?
Hal lain yang dapat memengaruhi gaya bahasa seseorang yaitu media massa. Pengaruh media massa bagi generasi muda sudah tidak dapat dielakkan kembali, misalnya seperti televisi. Saat ini, hampir seluruh stasiun televisi menyiarkan acara yang dapat dikatakan memiliki manfaat yang minim untuk generasi muda, bahkan kebanyakan acara yang ditampilkan menggunakan bahasa yang tidak baku. Oleh karenanya, generasi muda harus lebih pandai dalam menerima segala sesuatu agar tidak terjerumus ke dalam hal yang merugikan.
Selain globalisasi dan media massa, faktor lain yang dapat memengaruhi gaya bahasa seseorang adalah lingkungan sekitar. Ketika bergaul dengan orang-orang yang menggunakan bahasa gaul, maka lama kelamaan orang yang semula menggunakan bahasa dengan baik dan benar akan terseret ke dalam dunia bahasa mereka. Disinilah peran keluarga sangat diperlukan untuk membantu melestarikan bahasa Indonesia. Dengan peran aktif keluarga, diharapkan membuat generasi muda Indonesia menjadi lebih terbiasa menggunakan bahasa Indonesia sehingga tidak terasa janggal.
Sebagai generasi penerus bangsa Indonesia, sudah sepantasnya menjaga dan melestarikan bahasa Indonesia, bukan malah merusaknya. Jika sebagai pemuda Indonesia tidak dapat melestarikan bahasanya, bagaimana pemuda dapat diharapkan sebagai generasi penerus bangsa yang membanggakan? Oleh sebab itu, marilah kita menjadi generasi penerus bangsa dan warga negara Indonesia yang berperan aktif untuk senantiasa menjunjung tinggi bahasa Indonesia yang baik dan benar agar Indonesia semakin jaya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Lunturnya Bahasa Persatuan

Bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia, hal tersebut tertera dalam sumpah pemuda pada butir ke tiga. Makna dari but...